Search

iklan

Jalan-Jalan ke data center Indosat M2

4 comments

Selasa siang Boss gw ngajakin gw jalan-jalan naek mobilnya ke data center Indosat M2 yang ada di kebagusan-(daerah simatupang lah)..kata boss gw kita mau naro 4 buah server pesenan client. Pengalaman yang baru buat gw, servernya itu tipis banget 70cmx40cmx4cm bayangin tebetnya cuma 4cm (1U) yang harganya itu 20-30 jutaan (mantab..ampe gemeter megangnya).

sesampainya kita di data center kita masuk lobi dan dikasi ID card visitor lalu nunggu dilobi sambil duduk2 gitu eh ada rak koran..mau tau ga koran apa yang gw dapati di sana..????? Percaya ga percaya UG NEWS terpajang disana dengan rapih dan sangat dihargai (ga kayak dikampus kita yang mahasiswanya seenaknya ngebuang2 UG NEWS bahkan dijadikan alas duduk..hiks) hebat gw bangga juga ngeliat UG NEWS itu.

akhirnya orang yang kita tunggu dateng juga dan kita angkut 4buah server tersebut ke lantai 3(ruangan data centernya)..wiediiiiiiyyhh mantab baru kali ini gw ngeliat langsung kayak apa data center yang standart international..ruangannya full security system, disitu tersusun banyak Rak2 penyimpanan server yang tingginya 2 meter tersusun udah kayak supermarket aja. Rak tersebut disewakan..ada yang nyewa 1Rak, setengah, bahkan kemaren karena sangking tipisnya server yang kita bawa hanya kena biaya sewa seperempat Rak..biaya itu untuk tiap bulannya kena 2jt-an blum lagi biaya untuk sewa bandwidth..pokoknya TOPBGT dah..sayangnya gw ga bawa kamera jadi ga bisa narsis2an di ruangan datacenternya..hhhehehheheh

pas gw ngeliat2 rak yang laennya eh ada juga orang yang naro server dengan casing standart PC biasa..gw ma boss gw ketawa aja..iya parah juga ya klo PC gituan dibikin speck server paling abis 8jtan tapi biaya sewa space di datacenternya akan membengkak perbulannya, bayangin aja intuk 2 PC server aja udah makan space setengah Rak..hehehhe

Jam menunjukan pukul setengah 4..gilaaa jam 5 gw ada kursus di kampus dan ga boleh telat, mana motor dan tas masih dikantor..akhirnya demi kelulusan kursus gw ambil keputusan untuk cabut ke kampus naek angkot dengan lenggangnya gw ikut kursus cuma bawa pulpen doank..giiilaaa..al hasil keesokan harinya gw harus berangkat kantor naek bis yang melewati jalan macet nasional yaitu lenteng agung dan pasar minggu..waaaa tidaaaaaaakkkkkk

* Tuli Mengancam Kaum Muda *

0 comments

Menurut penelitian, ketulian menyerang orang makin dini. Penyebabnya adalah gaya hidup modern, seperti mendengarkan musik melalui earphone.


Entakan irama musik menemani perjalanan Linda—sebut saja begitu namanya—selama penerbangan dari Bangkok menuju Jakarta. Sejak pesawat lepas landas hingga mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta, sekitar tiga setengah jam, earphone yang tersambung pada alat pemutar musik mini terus menempel ditelinga gadis 18 tahun ini.


Semula Linda merasa asyik dan nikmat bisa mendengarkan musik kesayangannya tanpa peduli orang sekitar. Namun, ketika kupingnya tak lagi disumpal, dia terkejut. Ternyata kupingnya terus berdengung dan gerebek-gerebek. Berkali-kali Linda menelan ludah, berharap dengungan dan rasa "penuh" ditelinga segera pergi, tapi gagal. Kupingnya malah makin budek. Hiruk-pikuk kesibukan bandara cuma terdengar sayup-sayup. Untunglah, perlahan-lahan dengungan itu memudar.

Tapi Linda merasa pendengarannya tak setajam sebelumnya. Kondisi ini memaksanya mendatangi klinik telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). "Dia mengalami ketulian sampai 110 desibel," kata Ratna D. Restuti, dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Proklamasi, Jakarta Pusat, yang menangani gadis itu.

Angka 110 menunjukkan ukuran intensitas pendengaran atau audiogram. Untuk orang dengan pendengaran normal, audiogramnya terletak antara nol dan 20 desibel. Di atas angka itu, artinya kondisi telinga sudah tidak beres.

Kebiasaan mendengarkan musik dengan alat yang langsung disumpalkan ketelinga (earphone)—yang menjadi tren di kalangan anak muda masa kini—membuat prihatin Ratna. Apalagi lingkungan sekarang tak bebas dari kepungan suara bising: rumah dengan suara berbagai peralatan elektronik, jalan raya yang penuh kendaraan bermotor, tempat-tempat hiburan dengan musik keras, dan pabrik yang penuh geraman mesin.

Menurut hasil penelitian Jenny Bashiruddin, yang juga ahli THT, efek bising ini memang luar biasa. "Tak ada yang menyadari, misalnya, pusat permainan anak-anak di mal juga sumber bising berbahaya, karena tingkat kebisingannya mencapai 90-95 desibel,"kata Jenny, yang melakukan penelitian efek bising di berbagai tempat selama 2007.

Dengan tingkat suara setinggi itu, anak-anak seharusnya hanya boleh tinggal satu-dua jam. Jika lebih lama dari itu, akan terjadi kelelahan koklea (rumah siput), yang berperan penting dalam proses pendengaran. Kelelahan koklea yang terjadi terus-menerus dan tak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap. Menurut Jenny, makin sering dan lama diserbu
kebisingan, makin cepat berkurang masa seseorang mampu mendengar secara normal. Alhasil, tuli pun makin dini menyerang orang.

Ini rupanya menjadi kecenderungan global. Di Amerika Serikat, melalui penelitian lebih komprehensif, telah disimpulkan bahwa pendengaran sekitar 5,2 juta anak berusia 6-19 tahun terganggu gara-gara terlalu sering terpapar musik keras akibat pemakaian Walkman dan iPod, kebiasaan menikmati televisi ukuran jumbo dengan suara menggelegar, atau pergi ke klub joget dengan musik
tekno ajib-ajib.

Para ahli kesehatan di sana memperkirakan anak-anak iPod generation ini bakal lebih awal mengalami presbiakusis (tuli karena usia lanjut), yakni pada usia 40-an tahun. Padahal, secara normal, pengurangan kualitas pendengaran baru terjadi saat menginjak usia 60-70 tahun. Kondisi Indonesia pun tidak jauh berbeda. Apalagi makin banyak saja orang wira-wiri dengan kabel bersumpal "tertancap" di telinga.

Bila tidak percaya kedahsyatan dampaknya, lihat saja nasib Linda. Menurut Ratna, gadis muda itu didiagnosis mengalami tuli akibat bising karena telah mendengarkan musik dengan perangkat yang langsung menempel di telinga secara terus-menerus lebih dari tiga jam. Alat seperti ini semakin berakibat buruk karena si pemakai cenderung menggeber volume keras-keras agar telinga mereka tidak terganggu suara berisik di sekitarnya. "Seperti jika digunakan dikendaraan, termasuk pesawat dan kereta api," kata Ratna.

Untunglah Linda segera mendapat pertolongan. Dengan terapi hiperbalik—memberinya obat-obatan khusus—tingkat ketuliannya berkurang, tapi tak sembuh. "Tuli akibat bising memang cuma bisa dikurangi, tidak bisa pulih seratus persen jadi normal kembali," ujar Ratna. Sebab, yang rusak adalah sel rambut pada organ telinga bagian dalam yang berfungsi menangkap rangsangan atau rekuensi suara. Bila bagian ini sudah terganggu dan rusak, tak akan bisa kembali normal.

Menurut Damayanti Soetjipto, ahli THT dari Rumah Sakit MMC, Jakarta Selatan, paparan bising merupakan salah satu penyebab ketulian di Indonesia, yang kasusnya mencapai 0,4 persen dari total jumlah penduduk. Penyebab lainnya adalah congek, serumen (kotoran telinga), obat-obatan, usia lanjut, tuli sejak lahir, dan tuli mendadak. "Sebenarnya sebagian bisa dicegah, tapi kesadaran masyarakat soal ini masih rendah," katanya. Untuk mendongkrak kesadaran masyarakat itu, Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian dibentuk dan diresmikan Sabtu dua pekan lalu di Jakarta. Damayanti, yang menjabat sebagai ketua, menerangkan komisi nasional ini dibentuk atas rekomendasi lembaga regional yang dibentuk Badan Kesehatan Dunia (WHO), Sound Hearing 2030. Tujuan utamanya mengurangi kasus gangguan pendengaran dan ketulian hingga 50 persen pada 2015, dan 90 persen dalam 15 tahun berikutnya.

Masalahnya, kebisingan belum dianggap sebagai ancaman serius. Bising malah dianggap keren. Beberapa aktivitas kehidupan modern identik dengan kebisingan. Konser-konser musik digelar dengan sound system makin canggih. Tengok juga sejumlah kafe dan diskotek serta berbagai tempat nongkrong anak muda yang bertebaran di penjuru kota. Juga jalan raya yang makin semrawut
dan bising। Itu semua masih ditambah dengan hobi mendengarkan musik dengan earphone. Sepertinya, makin bising makin keren. Tapi, jika sudah tuli, pasti tidak lagi keren.

dikutip dari email Tridianto Subagio KA09